Kehilangan

Kehilangan

Doamu Ayah

Doamu Ayah

in Memorian of H.M.Husni Thamrin & Hj.Tina Triwahyuni Widya Nigrum

in Memorian of H.M.Husni Thamrin & Hj.Tina Triwahyuni Widya Nigrum
For my Parent in Heaven

PESAN TERAKHIR

3 kunci itu kan kusimpan sepanjang hayatku,
Takkan lekang oleh ruang dan waktu.

Dunia kita memang telah berbeda,
Namun Cinta, Kasih Sayang, serta Ilmu darimu.
Adalah warisan yg paling bernilai untukku.

Terimakasih Papah...

Father...

Father...
Loosing U is My deepest Pain Father

Sunday, July 26, 2009

Dia tetaplah Ibuku

Jamilah,seorang Perempuan paruh baya beranak tiga itu tampak meringis kesakitan,akibat luka lebam di sekujur tubuh,kepala,dan juga wajahnya.Sambil menangis dan menunduk menutupi wajahnya dari pandangan seluruh warga yang sedang menontonnya.

Yah,Jamilah tertangkap tangan hendak mencuri sepasang sendal oleh beberapa warga yang kebetulan melintas di depan halaman Mushola Al-Falah,saat di Mushola itu sedang ada acara pengajian rutin setiap malam Jumat di kampung tersebut.

Alhasil,Jamilah pun akhirnya menjadi bulan-bulanan seluruh warga yang mengejar dan berhasil menangkapnya,habislah ia dikeroyok oleh puluhan warga yang berbadan cukup besar itu.

Untunglah saat itu,pak Ustad dan beberapa muridnya segera keluar dari Mushola setelah mendengar ada keributan tersebut,dan berusaha menyelamatkan nyawa Jamilah yang sudah babak beluk,hingga hampir sulit dikenali lagi wajahnya yang hampir keriput itu.

Tiba-tiba,salah satu murid pak Ustad berteriak sambil berlari,"Jangan pukul lagi..," semua berpaling melihat ke arahnya,anak muda itu langsung menarik dan memeriksa lengan kiri Jamilah yang ternyata ada bekas luka yang lumayan besar.

Jamilah hanya menatap diam anak muda itu sambil meneteskan air mata,anak muda itu pun segera memeluk Jamilah,"Sudah,jangan pukul dia,dia Ibuku," mohon anak muda tersebut sambil menangis memeluk Ibunya.

" Saya yang salah,Ibu begini karena saya dipecat dari pekerjaan,ayah pergi meninggalkan kami begitu saja,sedangkan adik-adik kami kelaparan di rumah,pukul saya saja..," pinta anak muda itu dengan wajah mengiba.

Pa Ustad menghampiri Ibu dan anak yang masih berpelukan itu,seraya berkata," Untuk apa Ibumu mencuri sendal nak ?" lalu Jamilah menjawab dengan suara lirih," Saya tidak punya beras,apalagi susu untuk anak saya yang kecil Pak Ustad," ujar Jamilah.

Pak Ustad kembali bertanya pada muridnya,"Mengapa kamu melihat lengan ibu itu," dan muridnya itu menjawab,"Bekas luka itu ada,karena Ibu ingin melindungi saya dari Ayah yang hendak menusuk saya dengan pisau pak," ujarnya sedih.

" Astaghfirullah,mari ikut saya ke rumah," saut Pak Ustad sembari memapah Jamilah yang terlihat tak berdaya,sambil berkata pada seluruh warga yang sudah berkerumun disana,"Para warga sekalian,inilah bukti betapa besar tanggung jawab dan cinta seorang Ibu,hingga ia rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya demi segenggam beras atau segelas susu anaknya," Tegasnya.

"Lihat ia saudara-saudara sekalian,Ibu ini hanyalah korban atas ketidak berdayaannya,maafkan ia," Tambahnya lagi,dan mereka bertiga berjalan perlahan meninggalkan kerumunan warga yang hanya bengong,terpaku melihat mereka bertiga pergi.

No comments:

Post a Comment